Breaking News
Loading...

Kebijakan Pembatasan BBM Picu Kelangkaan di Pesisir Kotabaru, Nelayan Terancam Tak Melaut


KOTABARU
, kalimantanprime.com – Kebijakan pelarangan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax menggunakan jerigen di SPBU berdampak serius terhadap ketersediaan BBM di wilayah pesisir dan kepulauan yang tidak memiliki fasilitas SPBU. Kondisi ini kini mulai dirasakan masyarakat di Desa Tanjung Semalantakan, Kecamatan Pamukan Selatan, Kabupaten Kotabaru. Selasa (5/4/2026) 

Kelangkaan BBM, khususnya jenis Pertalite, semakin parah dalam beberapa hari terakhir. Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar, baik untuk kebutuhan transportasi maupun untuk melaut.

Amrullah, salah seorang warga Desa Tanjung Semalantakan, mengungkapkan bahwa sebagian besar pengecer saat ini sudah kehabisan stok. Kalaupun masih tersedia, jumlahnya sangat terbatas dan hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi.

“Rata-rata pengecer sudah kosong. Kalau pun ada, hanya dipakai sendiri. Tadi masih ada sedikit, tapi tidak tahu besok bagaimana,” ujarnya.

Selain langka, harga Pertalite juga mengalami lonjakan signifikan. Di tingkat pengecer, harga BBM tersebut kini mencapai sekitar Rp15.000 per liter, jauh di atas harga normal.

Situasi ini diperparah dengan tidak tersedianya BBM jenis Pertamax di wilayah tersebut. Masyarakat yang selama ini bergantung pada Pertalite tidak memiliki alternatif bahan bakar lain.

Dampak paling besar dirasakan para nelayan. Selama ini, distribusi BBM ke wilayah pesisir mengandalkan pengangkutan menggunakan jerigen yang dibawa melalui kapal taksi dari Kotabaru. Namun, dengan adanya larangan tersebut, pasokan BBM terancam terhenti.

“Ini sangat meresahkan, terutama bagi nelayan. Kami bergantung pada BBM yang dibawa dengan jerigen dari Kotabaru. Kalau itu tidak diperbolehkan lagi, kami tidak bisa melaut,” keluh seorang warga.

Hal serupa disampaikan Kamaruddin, nelayan setempat. Ia menilai, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, maka aktivitas melaut akan lumpuh total.

Warga pun memperkirakan kelangkaan BBM akan semakin parah dalam waktu dekat. Tidak hanya sektor perikanan yang terdampak, tetapi juga aktivitas transportasi masyarakat secara umum.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah cepat serta menghadirkan solusi konkret agar distribusi BBM ke wilayah pesisir tetap berjalan.

“Kalau besok masih tidak ada solusi, kemungkinan besar BBM akan benar-benar habis. Nelayan tidak bisa melaut, dan kendaraan pun tidak bisa digunakan,” tutup warga.(San) 

Lebih baru Lebih lama