Breaking News
Loading...

Pertalite Langka, Warga Sekandis Keluhkan Harga Tembus Rp25 Ribu per Liter


KOTABARU, kalimantanprime.com — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat di wilayah pelosok Kabupaten Kotabaru. Warga Desa Sekandis, Kecamatan Pamukan Selatan, mengaku harus membeli Pertalite dengan harga mencapai Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per liter.

Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan masyarakat, terutama pelajar dan warga yang setiap hari bergantung pada BBM untuk menunjang aktivitas.

Salah seorang warga Desa Sekandis, Iberahim Yusran, mengatakan sulitnya mendapatkan Pertalite membuat harga di tingkat masyarakat melonjak jauh dari harga resmi.

“Di kampung kami Pertalite harganya Rp22 ribu sampai Rp25 ribu. Kasihan anak sekolah dan masyarakat juga,” keluh Iberahim.

Menurutnya, persoalan kelangkaan BBM semakin terasa setelah adanya informasi mengenai larangan bagi pelangsir untuk mencari atau membeli BBM dalam jumlah tertentu. Padahal, kata dia, keberadaan pelangsir selama ini justru menjadi salah satu akses masyarakat di daerah yang jauh dari SPBU.

“Kalau tidak ada pelangsir, kami di kampung ini tidak ada BBM,” ujarnya.

Iberahim berharap pemerintah dapat segera mencari solusi atas persoalan tersebut, sehingga masyarakat di wilayah Kecamatan Pamukan Selatan tidak terus-menerus menghadapi kelangkaan dan harga BBM yang tinggi.

Keluhan serupa disampaikan seorang pelajar SMAN Pamukan Selatan asal Desa Sekandis. Ia menyebut informasi mengenai pasokan Pertalite masih belum dapat dipastikan. BBM yang beredar saat ini, menurutnya, merupakan sisa stok yang tersedia.

“Informasinya masih belum bisa keluar, Pak. Yang dijual saat ini merupakan sisa stok yang ada,” ungkapnya.

Ia mengatakan kondisi kelangkaan juga terjadi di wilayah SP C. Harga Pertalite di kawasan tersebut disebut mencapai sekitar Rp20 ribu per liter.

“Di SP C harga Pertalite Rp20 ribu per liter, Pak. Kondisinya langka sekali,” katanya.

Sementara di Desa Sekandis, harga disebut lebih tinggi, yakni mencapai Rp25 ribu per liter. Selain mahal, BBM juga sulit ditemukan.

“Di Sekandis harganya Rp25 ribu per liter. Di sana juga langka dan sulit didapat,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat harus berusaha keras untuk mendapatkan BBM. Bahkan, mencari Pertalite saat ini disebut seperti mencari sesuatu yang sangat sulit ditemukan.

“Mencarinya seperti mencari harta karun. Kalaupun dapat, tidak bisa membeli dalam jumlah banyak karena harus berbagi dengan pembeli lainnya,” tuturnya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin membebani masyarakat, khususnya pelajar yang membutuhkan kendaraan untuk berangkat dan pulang sekolah serta warga yang menggunakan sepeda motor untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera memastikan ketersediaan serta distribusi Pertalite hingga wilayah Kecamatan Pamukan Selatan. Mereka juga meminta adanya kebijakan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan di tingkat SPBU, tetapi turut mempertimbangkan kondisi masyarakat di daerah yang jauh dari pusat distribusi BBM.

Bagi warga Sekandis, persoalan BBM bukan sekadar soal harga. Ketika Pertalite langka, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas masyarakat ikut terdampak.(San) 

Lebih baru Lebih lama