Breaking News
Loading...

Jejak Kerajaan Cantung di Banua Lawas, Tokoh Muda Kelumpang Hulu Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah Raja-Raja Banjar

Sejarah panjang Kerajaan Cantung dan keterkaitannya dengan Kesultanan Banjar kembali diangkat dalam peringatan Haul Jama Raja-Raja Cantung yang digelar di Komplek Pemakaman Raja-Raja Banjar, Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Selasa (16/6/2026).

KOTABARU, kalimantanprime.com – Sejarah panjang Kerajaan Cantung dan keterkaitannya dengan Kesultanan Banjar kembali diangkat dalam peringatan Haul Jama Raja-Raja Cantung yang digelar di Komplek Pemakaman Raja-Raja Banjar, Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Selasa (16/6/2026).

Pada kesempatan tersebut, tokoh muda Kelumpang Hulu, Saijul Kunain, memaparkan sejarah singkat Kerajaan Cantung yang menjadi salah satu kerajaan penting di wilayah pesisir tenggara Kalimantan Selatan.

Menurut Saijul, kompleks pemakaman yang berada di Desa Banua Lawas merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Cantung yang memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Banjar.

Ia menjelaskan, sejarah kerajaan bermula ketika Sultan Saidullah dari Kesultanan Banjar memberikan wilayah kekuasaan kepada keturunannya, Pangeran Dipati Tuha atau Raden Basus. Wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi Kerajaan Tanah Bumbu dengan pusat pemerintahan di Sungai Bumbu yang kini berada di wilayah Kecamatan Sampanahan.

“Setelah berakhirnya Kerajaan Tanah Bumbu pada masa Ratu Mas, wilayah kerajaan dibagi kepada keturunannya. Salah satu wilayah terbesar kemudian menjadi Kerajaan Cantung dan Batulicin yang dipimpin oleh Ratu Intan I,” ujar Saijul.

Ia menambahkan, kompleks makam di Banua Lawas merupakan tempat peristirahatan keluarga besar Kerajaan Cantung, termasuk sejumlah tokoh penting yang memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah kerajaan tersebut.

Akan tetapi raja Cantung ke 5 Pangeran Kusuma Negara tidak bermakam dikoplek pemakaman tersebut, karena  Raja Cantung ke-5 yang pada tahun 1897 diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bondowoso, Jawa Timur, dan wafat di tempat pengasingan pada tahun 1929 dan dimakamkan di Bondowoso.

Saijul juga menjelaskan bahwa Banua Lawas pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Cantung setelah perpindahan pusat kerajaan pada 1 Juni 1867. Di kawasan tersebut dahulu berdiri kompleks istana kerajaan yang kini menyisakan berbagai situs sejarah, termasuk kompleks pemakaman kerajaan.

Selain berperan sebagai pusat perdagangan di wilayah pesisir tenggara Kalimantan Selatan, Kerajaan Cantung juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam. Para ulama dan pedagang membawa berbagai kitab keagamaan yang kemudian disebarluaskan ke sejumlah kerajaan lain seperti Sampanahan, Bangkalaan, Pulau Laut, dan Paser.

“Melalui jalur perdagangan dan dakwah inilah perkembangan Islam semakin pesat di kawasan Tanah Bumbu dan sekitarnya,” jelasnya.

Di depan kompleks makam juga terdapat makam Pangeran Anta Giri, salah seorang panglima Kerajaan Cantung yang melanjutkan pemerintahan setelah raja diasingkan oleh Belanda. Hingga kini sejumlah peninggalan sejarah yang berkaitan dengan tokoh tersebut masih dapat ditemukan di wilayah Kelumpang Hulu.

Kepala Desa Banua Lawas, Miyardi, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya pelestarian sejarah yang terus dilakukan masyarakat dan pemerintah.

“Komplek Pemakaman Raja-Raja Banjar di Banua Lawas merupakan aset sejarah yang sangat berharga. Kami berharap kawasan ini terus mendapatkan perhatian sehingga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda sekaligus destinasi wisata sejarah yang membanggakan daerah,” katanya.

Sementara itu, Camat Kelumpang Hulu, Rahmatullah, S.E., M.M., menilai keberadaan situs sejarah tersebut memiliki nilai penting dalam membangun identitas masyarakat daerah.

“Sejarah adalah bagian dari jati diri masyarakat. Dengan mengenal sejarah Kerajaan Cantung dan para pendahulu kita, generasi muda akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya serta termotivasi untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Pelestarian Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, Adi Priyanto, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendukung berbagai upaya pelestarian situs budaya dan sejarah di Kotabaru.

Menurutnya, hasil Lokakarya Nasional Sejarah Wilayah Pesisir Tenggara Kabupaten Kotabaru tahun 2015 menjadi salah satu pijakan penting dalam pengembangan sejarah lokal sebagai sumber pembelajaran.

“Berbagai arsip dan dokumen sejarah telah tersedia dan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah daerahnya. Kami berharap sejarah lokal Kotabaru dan Tanah Bumbu dapat semakin dikenal serta menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter dan kebudayaan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan haul dan pengenalan sejarah seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami perjalanan panjang Kerajaan Cantung sebagai bagian dari warisan peradaban Banjar yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran Islam di wilayah pesisir tenggara Kalimantan Selatan. (San) 
Lebih baru Lebih lama