KOTABARU, kalimantanprime.com — Jangan buru-buru melihat Belimbing Tunjuk hanya sebagai sebuah band musik. Di balik nama tersebut, ada perjalanan panjang seorang seniman yang telah melewati banyak panggung, dari tari, teater tradisi, teater modern hingga musik tradisi.
Dia adalah Anang Marendra Bayu, atau yang akrab disapa Rendra di kalangan seniman Kalimantan Selatan.
Sebelum namanya dikenal sebagai pencipta sekaligus produser musik, Rendra lebih dahulu membangun jejak panjang di dunia seni pertunjukan.
Ia pernah menjadi koreografer, menekuni seni tari dan meraih sejumlah penghargaan di tingkat Kalimantan Selatan hingga nasional. Pengalamannya juga membawanya terlibat dalam berbagai pertunjukan dan ajang seni di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kegiatan berskala nasional dan internasional.
Jejak panjang tersebut bukan sekadar catatan perjalanan.
Pengalaman lintas disiplin itu kemudian membentuk cara Rendra dalam melihat sebuah karya.
Baginya, musik tidak berdiri sendiri. Di dalamnya bisa bertemu gerak, cerita, tradisi, suasana dan pengalaman.
Rendra mengonfirmasi bahwa Belimbing Tunjuk merupakan band yang ia ciptakan. Ia juga menjadi sosok di balik penulisan dan produksi lagu-lagu Belimbing Tunjuk.
Dengan pengalaman panjang di panggung seni pertunjukan, musik kemudian menjadi medium baru bagi Rendra untuk menerjemahkan gagasan dan pengalaman kreatifnya.
Perjalanan Belimbing Tunjuk salah satunya ditandai dengan karya “Weaving Dreams”.
Karya tersebut kemudian diikuti sejumlah lagu lain, seperti “Belimbing Tunjuk”, “Kias Musafir”, “Nona Manis”, dan “Perindu Cinta”.
Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Belimbing Tunjuk yang terus bergerak dan berkembang.
Namun, ada hal yang membuat perjalanan ini menarik.
Rendra tidak datang ke dunia musik dengan tangan kosong.
Ia membawa pengalaman bertahun-tahun dari panggung tari, teater dan musik tradisi. Pengalaman tersebut menjadi warna tersendiri dalam proses penciptaan maupun produksi karya Belimbing Tunjuk.
Di tengah perkembangan dunia musik, Rendra tetap menjadikan daerah sebagai bagian penting dari perjalanan kreatifnya.
Kotabaru menjadi salah satu ruang tempat gagasan tersebut tumbuh.
Belimbing Tunjuk hadir dalam berbagai kegiatan seni dan budaya daerah, termasuk Festival Budaya Saijaan 2026.
Kehadiran itu sekaligus mempertemukan karya musik dengan ruang kebudayaan dan masyarakat Kotabaru.
Dari sini terlihat bahwa perjalanan Rendra bukan sekadar berpindah dari satu bidang seni ke bidang lainnya.
Ada benang merah yang terus dibawa: cerita, budaya dan pengalaman.
Dari gerak tari, ekspresi teater, musik tradisi, hingga lagu, semuanya menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang kemudian menemukan bentuk baru melalui Belimbing Tunjuk.
Belimbing Tunjuk pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah nama dalam dunia musik.
Di baliknya ada perjalanan panjang seorang seniman yang terus mencari medium untuk menyampaikan gagasan.
Rendra pernah bercerita melalui koreografi. Ia pernah membangun cerita melalui teater. Ia bersentuhan dengan musik tradisi dan kini memilih lagu sebagai salah satu cara untuk menyuarakan pengalaman dan gagasannya.
Dari panggung seni Kalimantan Selatan hingga musik yang tumbuh di Kotabaru, Rendra menunjukkan bahwa kreativitas tidak memiliki satu pintu.
Ia bisa lahir dari gerak, cerita, tradisi, kemudian menjelma menjadi suara.
Dan Belimbing Tunjuk adalah salah satu bentuk perjalanan itu.
Sebuah perjalanan seorang seniman yang tidak berhenti berkarya, sekaligus membawa jejak panjang keseniannya menjadi suara yang tumbuh dari Kotabaru.San