![]() |
Keluarga Pencinta Alam (ARGAPALA) Kabupaten Kotabaru memaknai Hari Kemerdekaan RI dengan melakukan pendakian ke Puncak Sebatung. |
KOTABARU, kalimantanprime.com— Ketika sebagian masyarakat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan di pusat kota, puluhan pencinta alam memilih cara berbeda untuk memaknai kemerdekaan.
Mereka menapaki jalur terjal dan menantang menuju Puncak Sebatung, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Di ketinggian sekitar 725 meter di atas permukaan laut (MDPL), Sang Merah Putih dikibarkan di salah satu titik tertinggi di Pulau Laut, Senin (17/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar Keluarga Pencinta Alam (ARGAPALA) Kabupaten Kotabaru dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Pendakian berlangsung selama dua hari, 16–17 Agustus 2026, dan diikuti sekitar 40 orang pencinta alam.
Pendakian ini dimotori H. Wahyu Rofian Nor bersama sejumlah pendaki senior, di antaranya Ancah Bos Crek, Indro, Arul, Amir Martono, serta para pendaki lainnya.
Bagi mereka, perjalanan menuju Sebatung bukan sekadar menaklukkan ketinggian. Setiap langkah menjadi cara untuk mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam.
Sesampainya di puncak, para peserta melaksanakan upacara peringatan HUT ke-81 RI. Upacara berlangsung khidmat dengan H. Wahyu Rofian Nor sebagai inspektur upacara, sementara Fahmi bertindak sebagai pemimpin upacara.
Pengibaran Sang Merah Putih di tengah panorama alam Puncak Sebatung menjadi puncak kegiatan. Upacara berlangsung lancar, aman dan sukses.
H. Wahyu Rofian Nor mengatakan, kegiatan tersebut bukan hanya tentang mengibarkan bendera di puncak gunung. Lebih dari itu, pendakian menjadi momentum untuk menanamkan rasa nasionalisme sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami ingin memperingati kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Mendaki Puncak Sebatung, mengibarkan Merah Putih, sekaligus mengajak para pendaki untuk menjaga dan mencintai alam. Kemerdekaan harus kita isi dengan hal-hal positif yang memberikan manfaat,” ujar Wahyu.
Menurutnya, Puncak Sebatung merupakan bagian penting dari kekayaan alam Kotabaru yang harus dirawat bersama. Karena itu, kegiatan juga diisi dengan aksi bersih-bersih sampah di sepanjang jalur pendakian.
“Jangan sampai kita hanya menikmati keindahan alam, tetapi meninggalkan sampah. Alam ini milik kita bersama dan harus diwariskan dalam kondisi yang tetap terjaga kepada generasi berikutnya,” katanya.
Pesan serupa disampaikan pendaki senior Amir Martono. Menurutnya, pendakian pada momentum kemerdekaan memiliki makna tersendiri karena para peserta harus melewati berbagai tantangan sebelum akhirnya tiba di puncak.
“Naik ke puncak itu mengajarkan kita tentang perjuangan. Ada lelah, ada medan yang sulit, tetapi semua terbayar ketika Merah Putih berkibar di puncak Sebatung. Semangat itu yang ingin kami tanamkan kepada para pendaki,” tutur Amir.
Ia menambahkan, kegiatan bersih-bersih jalur pendakian menjadi bagian yang tidak kalah penting.
“Pencinta alam bukan hanya orang yang suka mendaki. Pencinta alam harus mampu menjaga alam. Kalau kita datang menikmati, maka kita juga harus pulang dengan membawa tanggung jawab untuk tidak meninggalkan kerusakan,” ujarnya.
Sementara Arul, salah seorang pendaki senior, menilai pengibaran Merah Putih di Puncak Sebatung menjadi pengalaman yang memiliki nilai emosional bagi seluruh peserta.
“Ada kebanggaan tersendiri melihat Merah Putih berkibar di atas Sebatung. Kita berdiri di alam terbuka, bersama teman-teman, memperingati kemerdekaan. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan dan kebersamaan harus terus dijaga,” kata Arul.
Di antara puluhan peserta, kisah Umy Kalsum, pendaki pemula, menjadi salah satu cerita yang paling mengesankan.
Sejak 2006, Umy telah menyimpan keinginan untuk menjejakkan kaki di Puncak Sebatung. Namun berbagai keadaan membuat impian tersebut belum juga terwujud.
Hingga akhirnya, setelah menunggu selama 20 tahun, keinginannya untuk berdiri di puncak Sebatung akhirnya menjadi kenyataan pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026.
“Sejak tahun 2006 saya sudah punya keinginan untuk mendaki Puncak Sebatung. Tapi baru tahun 2026 ini akhirnya bisa terwujud. Rasanya campur aduk, antara senang, terharu dan bangga. Apalagi bisa sampai di puncak bertepatan dengan peringatan kemerdekaan dan melihat Merah Putih dikibarkan,” ungkap Umy.
Bagi Umy, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah keinginan yang dipelihara dengan sabar pada akhirnya bisa diwujudkan.
“Saya berharap ini bukan menjadi pendakian pertama sekaligus terakhir. Justru dari sini saya ingin lebih mengenal alam dan belajar menjaga lingkungan,” katanya.
Dua hari perjalanan, 16–17 Agustus, akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar jejak kaki di jalur pendakian. Ada Merah Putih yang berkibar, semangat kebersamaan yang tumbuh, serta sampah yang dibersihkan dari jalur menuju puncak.
Bagi ARGAPALA dan para pendaki, Puncak Sebatung bukan sekadar tujuan perjalanan. Ia menjadi ruang untuk merawat nasionalisme sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan juga berarti memiliki tanggung jawab menjaga kekayaan alam.
Dari ketinggian 725 MDPL, Merah Putih berkibar. Pesannya sederhana, tetapi kuat: mencintai Indonesia bukan hanya dengan mengibarkan bendera, tetapi juga dengan menjaga tanah, hutan dan alam yang menjadi bagian dari negeri ini. (San)

