
Sungai Cantung menyimpan ancaman yang semakin nyata. Populasi buaya muara diduga terus bertambah dan kini menjadi teror bagi warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.
KOTABARU, kalimantanprime.com – Permukaan Sungai Cantung tampak tenang. Airnya mengalir perlahan, menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru. Sungai ini sejak lama menjadi tempat warga mencari ikan, mandi, mencuci hingga jalur transportasi.
Namun di balik ketenangannya, Sungai Cantung menyimpan ancaman yang semakin nyata. Populasi buaya muara diduga terus bertambah dan kini menjadi teror bagi warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.
Puncak kekhawatiran itu kembali mencuat setelah seorang anak di Desa Sungai Kupang menjadi korban serangan buaya. Peristiwa tragis tersebut memperkuat keresahan masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan predator ganas itu.
Arbain, warga Desa Sungai Kupang, mengatakan kemunculan buaya bukan lagi kejadian langka. Hampir setiap hari warga mengaku melihat buaya muncul di permukaan sungai, bahkan tidak jauh dari permukiman.
"Buaya sekarang sudah sangat sering terlihat. Kami benar-benar khawatir, apalagi anak-anak masih sering bermain dan warga mencari ikan di sungai," ujarnya kepada Kalimantanprime.com, Rabu (15/7/2026).
Senada dengan itu, Saijul Kurnain menilai populasi buaya di Sungai Cantung terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, masyarakat kini harus selalu waspada setiap kali beraktivitas di sungai.
"Dulu kemunculannya jarang, sekarang hampir setiap waktu bisa terlihat. Kondisi ini sangat meresahkan karena sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat," katanya.
Keresahan serupa juga dirasakan warga di Desa Banua Lawas dan Desa Karang Payau. Mereka mengaku tidak lagi merasa aman ketika harus turun ke sungai untuk mencari ikan maupun melakukan aktivitas sehari-hari.
Beberapa warga bahkan berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengurangi potensi konflik antara manusia dan buaya, termasuk melakukan kajian terhadap perkembangan populasi satwa tersebut.
Kepala Desa Sungai Kupang, Muhammad Saleh, mengakui ancaman buaya telah menjadi persoalan serius yang dihadapi masyarakat di wilayahnya.
Menurutnya, hampir seluruh aktivitas warga masih bergantung pada Sungai Cantung sehingga risiko bertemu dengan buaya sangat tinggi.
"Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas karena warga setiap hari beraktivitas di sungai," tegasnya.
Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Sungai Cantung menjadi peringatan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar tidak lagi bisa dianggap sebagai kejadian biasa.
Bagi masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Cantung, sungai yang dahulu menjadi sumber penghidupan kini juga menjadi sumber kekhawatiran. Di balik aliran air yang tampak tenang, predator purba itu terus mengintai, mengubah setiap aktivitas di tepian sungai menjadi pertaruhan keselamatan.(San)