Breaking News
Loading...

Menelusuri Jejak Purbakala di Kotabaru: Menguak Peradaban Ribuan Tahun yang Tersembunyi di Pegunungan Meratus

Di balik lebatnya hutan tropis dan gugusan karst Pegunungan Meratus yang membelah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tersimpan kisah panjang tentang kehidupan manusia ribuan tahun silam

 KOTABARU, kalimantanprime.com – Di balik lebatnya hutan tropis dan gugusan karst Pegunungan Meratus yang membelah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tersimpan kisah panjang tentang kehidupan manusia ribuan tahun silam. Gua-gua yang selama ini hanya dipandang sebagai bentang alam ternyata menyimpan jejak peradaban prasejarah yang perlahan mulai terungkap melalui penelitian arkeologi.

Pada Minggu (5/7/2026), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melanjutkan ekspedisi arkeologi di Kotabaru. Penelitian ini bukan sekadar memantau kondisi situs-situs yang telah ditemukan sebelumnya, tetapi juga memperdalam kajian ilmiah untuk mengungkap lebih banyak fakta mengenai kehidupan manusia purba di kawasan karst Meratus.

Tim penelitian dipimpin para arkeolog BRIN, yakni Nia Marniati, Etie Fajari, Restu Budi Sulistiyo, dan Anton Ferdianto, serta diperkuat kolaborasi internasional bersama peneliti Australia Christopher Clarkson dan Kasih Norman.

Hari pertama penelitian difokuskan di Kecamatan Hampang dengan mengunjungi tiga situs purbakala. Selanjutnya, pada hari kedua, tim melanjutkan penelitian ke Kecamatan Kelumpang Hulu dengan menelusuri enam situs yang tersebar di kawasan karst.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah berlangsung sejak 2018 dan terus menghasilkan temuan-temuan penting mengenai sejarah awal penghuni Pulau Kalimantan.

Salah seorang pemerhati budaya Kelumpang Hulu, Saijul Kurnain, menjelaskan bahwa awal penelitian bermula dari inisiatif masyarakat setempat melalui Lembaga Adat Kerajaan Kuno Kambatang Lima Cantung (LAK3C).

Menurutnya, pada 21 Oktober 2016 LAK3C mengirimkan surat resmi kepada Balai Arkeologi Nasional agar dilakukan penelitian terhadap sejumlah gua di wilayah Kelumpang Hulu yang diyakini menyimpan tinggalan sejarah.

"Tim Arkeologi Nasional mulai melakukan pemetaan pada Februari 2018. Saat itu dipimpin Pak Bambang dari Jakarta, Pak Eko dari Surabaya, dan Pak Thomas dari Yogyakarta. Lokasi pertama yang diteliti adalah Gua Batu Larung, kawasan bekas Kerajaan Cantung ke-5 di Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu," ungkap Saijul.

Penelitian kemudian berlanjut dengan tahap ekskavasi atau penggalian arkeologi yang dimulai pada 2022 dan terus berkembang hingga sekarang.

Perjalanan para peneliti bukanlah pekerjaan mudah. Mereka harus menembus hutan hujan tropis, mendaki tebing-tebing karst, menyusuri aliran sungai, hingga memasuki lorong-lorong gua yang selama ribuan tahun nyaris tidak tersentuh manusia modern.

Namun, setiap perjalanan itu membuahkan hasil yang luar biasa.

Dari berbagai situs yang telah diteliti, para arkeolog menemukan beragam artefak berupa alat batu, alat tulang, pecahan gerabah, cangkang kerang, sisa makanan, hingga rangka manusia yang menjadi bukti keberadaan komunitas prasejarah di kawasan tersebut.

Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa wilayah Kotabaru telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu. Gua-gua di kawasan karst Pegunungan Meratus bukan hanya dimanfaatkan sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi pusat aktivitas masyarakat pemburu dan peramu, tempat pengolahan makanan, bahkan lokasi penguburan.

Salah satu situs yang menjadi perhatian para peneliti adalah Gua Batu di kawasan Kelumpang Barat. Di lokasi tersebut ditemukan berbagai artefak yang menggambarkan kehidupan manusia purba pada zamannya.

Penelitian di Gua Cililin 1 dan Gua Jauharlin 1 juga memperlihatkan karakter yang berbeda. Ada situs yang berfungsi sebagai hunian, ada yang menjadi lokasi penguburan, bahkan ditemukan indikasi aktivitas pengolahan logam pada periode yang lebih muda.

Berbagai temuan tersebut menjadikan kawasan karst Kotabaru sebagai salah satu laboratorium alam penting bagi penelitian arkeologi di Indonesia. Selain mengungkap sejarah lokal, hasil penelitian juga memberi gambaran mengenai jalur migrasi manusia purba di Pulau Kalimantan dan kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan tropis yang kaya sumber daya alam.

Bagi masyarakat Kotabaru, penelitian ini menjadi pengingat bahwa Bumi Saijaan bukan hanya kaya akan hasil tambang, hutan, dan laut, tetapi juga menyimpan warisan sejarah yang memiliki nilai ilmiah tinggi.

Warisan itu menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga. Kerusakan situs akibat aktivitas manusia maupun faktor alam dapat menghilangkan informasi sejarah yang tidak mungkin tergantikan.

Karena itu, penelitian yang terus dilakukan BRIN diharapkan menjadi dasar bagi upaya pelestarian kawasan-kawasan purbakala sekaligus membuka peluang pengembangan wisata edukasi, geowisata, dan penelitian ilmiah yang berkelanjutan.

Masih banyak gua dan bentang karst di Pegunungan Meratus yang belum tersentuh penelitian. Setiap ekspedisi berpotensi menemukan kepingan baru dari puzzle sejarah manusia yang selama ribuan tahun tersembunyi di balik dinding-dinding batu.

Bumi Saijaan menyimpan kisah yang jauh lebih tua daripada sejarah kerajaan maupun masa kolonial. Melalui tangan para arkeolog, kisah itu kini perlahan kembali terungkap, membuktikan bahwa Kotabaru merupakan salah satu saksi penting perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara.(San) 

Lebih baru Lebih lama