Breaking News
Loading...

Makam Raja Agung Resmi Jadi Cagar Budaya Pertama di Kotabaru, Pemkab Siapkan Pengembangan dan Fasilitas Pendukung


KOTABARU
, kalimantanprime.com – Penetapan Komplek Makam Raja Agung dan Makam Ratu Intan di Desa Bangkalaan Melayu, Kecamatan Kelumpang Hulu, sebagai situs cagar budaya menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya di Kabupaten Kotabaru. Status tersebut sekaligus menandai situs cagar budaya pertama yang resmi ditetapkan di Bumi Saijaan.

Momentum penetapan yang bertepatan dengan pelaksanaan Haul Raja Agung ke-21, Minggu (12/7/2026), disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Kotabaru, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta para pemerhati sejarah yang selama ini memperjuangkan pengakuan terhadap situs bersejarah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, Akhmad Romansyah, S.Pd., M.AP, mengatakan penetapan Makam Raja Agung sebagai situs cagar budaya merupakan bentuk penghargaan pemerintah kepada para pendahulu yang telah mewariskan sejarah berharga bagi daerah.

"Penetapan ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada para pendahulu dan masyarakat yang telah menjaga warisan sejarah ini. Ke depan, situs ini akan terus dikembangkan sebagai sarana edukasi agar masyarakat semakin mengenal sejarah Kabupaten Kotabaru, khususnya keberadaan Makam Raja Agung sebagai situs yang memiliki nilai sejarah tinggi," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah juga akan melakukan kajian terhadap kebutuhan sarana dan prasarana di kawasan makam agar pelestarian situs dapat berjalan optimal.

"Hari ini kami sudah melihat langsung kondisi di lapangan. Berbagai kebutuhan akan dikaji sesuai regulasi yang berlaku. Salah satunya fasilitas dasar seperti toilet yang masih belum tersedia. Insyaallah akan kami upayakan sesuai kewenangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.

Sementara itu, Camat Kelumpang Hulu Rahmatullah Noor, S.Sos., M.M., berharap penetapan status cagar budaya menjadi perhatian bersama dalam meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan makam.

Ia mengusulkan peningkatan jalan menuju Desa Bangkalaan Melayu, pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan dengan Desa Bangkalaan, serta rehabilitasi berbagai fasilitas pendukung seperti kanopi dan toilet.

"Harapan kami kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi wisata religi yang nyaman, sehingga tidak hanya dikunjungi masyarakat Kotabaru, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah, bahkan hingga tingkat nasional maupun internasional," ujarnya.

Dukungan juga datang dari Pemerhati Budaya Kecamatan Kelumpang Hulu, Saijul Kurnain, yang menyebut penetapan Makam Raja Agung dan Makam Ratu Intan sebagai hasil perjuangan panjang berbagai pihak.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi sejarah baru karena merupakan penetapan situs cagar budaya pertama di Kabupaten Kotabaru.

"Selama ini sinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berjalan sangat baik. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut agar situs-situs bersejarah lainnya di setiap kecamatan dan desa juga dapat diusulkan menjadi cagar budaya," katanya.

Ia menegaskan para penggiat sejarah akan terus mengumpulkan data dan informasi yang akurat untuk disampaikan kepada Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Selatan sebagai dasar penetapan situs-situs bersejarah lainnya.

Apresiasi serupa disampaikan Pemerintah Desa Bangkalaan Melayu melalui Sekretaris Desa Ardaini. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memperjuangkan hingga Makam Raja Agung resmi memperoleh status cagar budaya.

Menurutnya, penetapan tersebut menjadi awal bagi pengembangan kawasan makam yang selama ini menjadi tujuan ziarah masyarakat.

"Kami berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat membantu melengkapi fasilitas yang masih kurang. Setiap pelaksanaan haul jumlah peziarah terus meningkat sehingga sarana dan prasarana perlu terus ditingkatkan demi kenyamanan pengunjung," ujarnya.

Dengan ditetapkannya Makam Raja Agung sebagai situs cagar budaya, diharapkan pelestarian warisan sejarah di Kabupaten Kotabaru semakin mendapat perhatian. Selain menjadi simbol penghormatan kepada para pendahulu, kawasan tersebut juga berpotensi berkembang sebagai pusat edukasi sejarah sekaligus destinasi wisata religi yang mampu mengangkat nilai budaya daerah hingga tingkat nasional.(San) 

Lebih baru Lebih lama