Breaking News
Loading...

Jejak Ribuan Tahun dari Perut Borneo: Rahasia Manusia Purba Mulai Terkuak di Pegunungan Kelumpang


KOTABARU
, kalimantanprime.com – Di balik lebatnya hutan dan gugusan karst Pegunungan Meratus yang membentang di wilayah Kelumpang, Kabupaten Kotabaru, tersimpan kisah panjang peradaban manusia yang selama ribuan tahun nyaris tak tersentuh. Setiap langkah para arkeolog yang menyusuri lorong-lorong gua bukan sekadar ekspedisi ilmiah, melainkan upaya membuka lembaran awal sejarah Pulau Kalimantan.

Pulau Kalimantan atau Borneo ternyata menyimpan jejak kehidupan manusia yang jauh lebih tua daripada yang selama ini diketahui. Sejak 2018, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah peneliti internasional terus melakukan penelitian di kawasan Kecamatan Kelumpang Hulu, Kelumpang Barat, dan Hampang. Penelitian tersebut telah menghasilkan berbagai temuan penting yang memperkuat dugaan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat aktivitas manusia sejak masa prasejarah.

Saat mengikuti penelitian lapangan pada hari ketiga, Selasa (7/7/2026), kalimantanprime.com menyaksikan langsung bagaimana para peneliti bekerja dengan penuh ketelitian di setiap sudut gua. Mereka memeriksa dinding batu, mengumpulkan sampel, hingga mendokumentasikan setiap temuan sekecil apa pun yang berpotensi mengungkap sejarah ribuan tahun silam.

Temuan-temuan yang berhasil dikumpulkan tidaklah sederhana. Pecahan gerabah kuno, sisa-sisa aktivitas manusia, hingga lukisan cadas yang menghiasi dinding gua menjadi petunjuk bahwa kawasan ini pernah dihuni oleh komunitas manusia prasejarah. Motif lukisan yang ditemukan bahkan memiliki kemiripan dengan sejumlah situs prasejarah terkenal di berbagai wilayah Indonesia, mengindikasikan adanya hubungan budaya atau perkembangan tradisi yang serupa pada masa lampau.

Salah satu penemuan paling spektakuler berada di Kecamatan Kelumpang Hulu, yakni kerangka manusia yang diperkirakan berusia ribuan tahun. Penemuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat hidup manusia dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Tak hanya itu, tim peneliti juga menemukan tungku peleburan bijih besi yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-2 Masehi. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat yang pernah mendiami kawasan tersebut diduga telah mengenal teknologi metalurgi jauh lebih awal daripada yang selama ini diperkirakan. Jika hasil penelitian laboratorium menguatkan dugaan tersebut, maka sejarah perkembangan teknologi di Kalimantan berpotensi mengalami penulisan ulang.

Dalam penelitian terbaru, perhatian tim tertuju pada pengambilan sampel dari lapisan batuan dan material yang melekat pada lukisan gua. Sampel tersebut diambil menggunakan metode ilmiah yang sangat hati-hati agar tidak merusak situs.

Arkeolog asal Australia, Christopher, yang terlibat dalam penelitian menjelaskan bahwa setiap sampel akan dibersihkan secara teliti sebelum dianalisis di laboratorium. Proses tersebut bertujuan memperoleh bagian inti material yang masih utuh sehingga dapat digunakan untuk menentukan usia minimum dari situs maupun lukisan yang ditemukan.

Selain penentuan umur, penelitian juga akan dilanjutkan dengan ekskavasi pada bagian bawah lokasi penemuan. Tim berharap menemukan jejak pigmen oker (ochre), bahan pewarna alami yang sejak lama dikenal sebagai salah satu penanda aktivitas budaya manusia prasejarah.

Apabila keberadaan oker beserta bukti pendukung lainnya berhasil dibuktikan melalui analisis laboratorium, maka kawasan karst Kelumpang berpotensi menjadi salah satu situs prasejarah terpenting di Pulau Kalimantan. Temuan tersebut tidak hanya memperkaya khazanah arkeologi Indonesia, tetapi juga dapat memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman mengenai jalur migrasi, perkembangan budaya, dan kehidupan manusia purba di Asia Tenggara.

Bagi masyarakat umum, gua-gua di Kelumpang mungkin hanya tampak sebagai bentang alam yang sunyi. Namun bagi para arkeolog, setiap pecahan gerabah, guratan lukisan di dinding batu, hingga butiran tanah yang diambil dari lantai gua merupakan potongan puzzle yang perlahan menyusun kisah ribuan tahun perjalanan manusia.

Penelitian yang masih terus berlangsung ini menjadi pengingat bahwa jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan di Nusantara, bahkan sebelum sejarah dituliskan, Borneo telah menjadi rumah bagi manusia yang meninggalkan jejak peradaban mereka di balik dinding-dinding batu. Kini, jejak itu perlahan kembali berbicara melalui tangan-tangan para ilmuwan yang berusaha mengungkap rahasia masa lalu dengan pendekatan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.(San) 

Lebih baru Lebih lama