KOTABARU,
kalimantanprime.com – Nama Raja Agung Kerajaan Bangkalaan masih hidup dalam ingatan masyarakat Kalimantan Selatan. Bukan hanya sebagai penguasa salah satu kerajaan pesisir yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Banjar, tetapi juga sebagai sosok yang dikenang karena kepemimpinannya, jejak sejarahnya, serta kisah-kisah spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam pembacaan sejarah dan silsilah Kerajaan Bangkalaan pada peringatan Haul Raja Agung, Minggu (12/7/2026), dipaparkan bahwa Kerajaan Bangkalaan meliputi tiga wilayah, yaitu Sungai Bangkalaan, Rumah Hadipati Karang Katatan, dan Bangkalaan Melayu.
Sejarah kerajaan mencatat, setelah wafatnya Ratu Intan atau Aji Tukul yang bergelar Ratu Agung binti Pangeran Aji Jawa, tampuk pemerintahan diteruskan oleh keturunannya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan memperkuat hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan di kawasan pesisir sekaligus mengembangkan jalur perdagangan antardaerah.
Ratu Intan kemudian wafat di Istana Kerajaan Bangkalaan Melayu yang kini berada di wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru. Hingga kini, peninggalan bersejarah berupa dua meriam kerajaan masih dapat disaksikan di depan Kantor Bupati Kotabaru, sementara sebuah tombak pusaka disimpan di Balai Bangkalaan Dayak.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dipegang oleh Ratu Agung Putri Aji Tukul sebagai wali pemerintahan hingga putranya, Aji Semarang Pangeran Muda Muhammad Aribillah, memasuki usia dewasa.
Di bawah bimbingan sang ibu, Muhammad Aribillah tumbuh menjadi pemimpin yang melanjutkan kebijakan kerajaan di bidang diplomasi dan perdagangan. Sekitar tahun 1880, ia tercatat melakukan pelayaran dagang hingga ke Negeri Siam (Thailand) dengan membawa berbagai hasil bumi dari Kerajaan Bangkalaan.
Salah satu peninggalan penting pada masa pemerintahannya adalah pembangunan cungkup makam leluhur sebagai bentuk pemenuhan nazar sang ibu. Cungkup tersebut menaungi makam Ratu Intan, penguasa Cantung dan Batulicin, yang berada di Desa Bakau, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru.
Muhammad Aribillah menikah dengan tiga perempuan, yakni Ratu Tarum binti Pangeran Berantara Kesuma, Putri Cengal, dan Putri Besi binti Daeng Mangkau Pagatan. Dari pernikahannya dengan Ratu Tarum lahirlah Aji Masrawan yang kemudian bergelar Pangeran Arga Kesuma.
Namun, sebagaimana ayahandanya, Muhammad Aribillah juga wafat pada usia muda, yakni 35 tahun. Sebelum meninggal dunia, ia berwasiat agar dimakamkan berdampingan dengan makam Ratu Intan di Desa Bakau. Wasiat tersebut dipenuhi oleh keluarga kerajaan yang membawa jenazahnya melalui jalur laut menuju lokasi pemakaman.
Kepemimpinan Kerajaan Bangkalaan kemudian diteruskan oleh Aji Masrawan atau Pangeran Arga Kesuma sebagai raja keenam sekaligus raja terakhir. Ia memerintah sejak tahun 1884 hingga wafat pada 1905. Makamnya berada di wilayah Bincau, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Raja yang Dikenang karena Kedermawanannya
Selain tercatat dalam sejarah, sosok Raja Agung juga dikenang melalui berbagai tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat.
Tokoh agama, Habib Qodri Alaydrus, menggambarkan Raja Agung sebagai pribadi yang dermawan, alim, dan memiliki kedalaman spiritual.
Menurutnya, Raja Agung pernah menimba ilmu agama di Martapura. Berdasarkan riwayat yang berkembang di masyarakat, nisan Raja Agung dibuat dari kayu ulin yang diambil dari kawasan hutan di sekitar Istana Bangkalaan. Sementara itu, pengukirnya didatangkan dari lingkungan Kesultanan Banjar oleh Syarifah Intan Sari, istri Pangeran Muhammad, putra Sultan Adam Al-Watsiq Billah.
Habib Qodri juga menyampaikan bahwa Syarifah Intan Sari kemudian mengembuskan napas terakhir dan dimakamkan di wilayah Desa Bangkalaan Melayu. Makam beliau hingga kini masih dapat dijumpai.
Selain itu, Habib Qodri mengisahkan adanya wasiat Raja Agung terkait pemasangan nisan tersebut. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Raja Agung pernah berpesan bahwa apabila ada seseorang meninggal dunia akibat tertimpa nisan saat proses pemasangan, maka orang tersebut agar dimakamkan di lokasi yang telah ditentukan.
"Konon, peristiwa itu benar-benar terjadi. Seorang pengikut beliau meninggal saat proses pemindahan nisan, kemudian dimakamkan sesuai dengan wasiat tersebut," tutur Habib Qodri.
Bagi Habib Qodri, Raja Agung bukan hanya dikenang sebagai seorang penguasa, tetapi juga sebagai sosok yang sangat mencintai rakyatnya.
"Beliau adalah seorang raja yang alim, bahkan diyakini sebagai seorang wali Allah. Sosok seperti ini sangat jarang ditemukan dalam sejarah. Semoga keberkahan beliau terus mengalir bagi masyarakat, khususnya di wilayah ini," ujarnya.
Hingga kini, sejarah Kerajaan Bangkalaan terus dirawat melalui berbagai sumber, mulai dari tradisi lisan zuriat Kesultanan Banjar, referensi sejarah, arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), arsip Leiden di Belanda, hingga berbagai dokumen sejarah lainnya. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga warisan sejarah kerajaan-kerajaan pesisir di Kalimantan Tenggara yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Banjar.Apabila artikel ini akan diterbitkan sebagai berita utama, saya juga dapat menyusunnya dengan gaya bahasa jurnalistik yang lebih mengalir dan sesuai standar redaksi media.San
Nama Raja Agung Kerajaan Bangkalaan masih hidup dalam ingatan masyarakat Kalimantan Selatan. Bukan hanya sebagai penguasa salah satu kerajaan pesisir yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Banjar, tetapi juga sebagai sosok yang dikenang karena kepemimpinannya, jejak sejarahnya, serta kisah-kisah spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Dalam pembacaan sejarah dan silsilah Kerajaan Bangkalaan pada peringatan haul Raja Agung, Minggu (12/7/2026), dipaparkan bahwa Kerajaan Bangkalaan merupakan kerajaan yang meliputi tiga wilayah, yakni Sungai Bangkalaan, Rumah Hadipati Karang Katatan, dan Kerajaan Bangkalaan Melayu.
Sejarah kerajaan mencatat, setelah wafatnya Ratu Intan atau Aji Tukul yang bergelar Ratu Agung binti Pangeran Aji Jawa, tampuk pemerintahan diteruskan oleh keturunannya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan memperkuat hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan di kawasan pesisir sekaligus mengembangkan jalur perdagangan antardaerah.
Ratu Intan kemudian wafat di Istana Kerajaan Bangkalaan Melayu yang kini berada di wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru. Hingga kini, peninggalan bersejarah berupa dua meriam kerajaan masih dapat disaksikan di depan Kantor Bupati Kotabaru, sementara sebuah tombak pusaka disimpan di Balai Bangkalaan Dayak.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dipegang Ratu Agung Putri Aji Tukul sebagai wali pemerintahan hingga putranya, Aji Semarang Pangeran Muda Muhammad Aribillah, memasuki usia dewasa.
Di bawah bimbingan sang ibu, Muhammad Aribillah tumbuh menjadi pemimpin yang melanjutkan kebijakan kerajaan dalam bidang diplomasi dan perdagangan. Sekitar tahun 1880, ia tercatat melakukan pelayaran dagang hingga ke Negeri Siam (Thailand) dengan membawa hasil bumi dari Kerajaan Bangkalaan.
Salah satu peninggalan penting pada masa pemerintahannya adalah pembangunan cungkup makam leluhur sebagai bentuk pemenuhan nazar sang ibu. Cungkup tersebut menaungi makam Ratu Intan, penguasa Cantung dan Batulicin, yang berada di Desa Bakau, Kecamatan Pamukan Utara, Kabupaten Kotabaru.
Muhammad Aribillah menikah dengan tiga perempuan, yakni Ratu Tarum binti Pangeran Berantara Kesuma, Putri Cengal, dan Putri Besi binti Daeng Mangkau Pagatan. Dari pernikahannya dengan Ratu Tarum lahirlah Aji Masrawan yang kemudian bergelar Pangeran Arga Kesuma.
Namun, sebagaimana ayahandanya, Muhammad Aribillah juga wafat dalam usia muda, yakni 35 tahun. Sebelum meninggal, ia berwasiat agar dimakamkan berdampingan dengan makam Ratu Intan di Desa Bakau. Wasiat itu dipenuhi oleh keluarga kerajaan yang membawa jenazahnya melalui jalur laut menuju lokasi pemakaman.
Kepemimpinan Kerajaan Bangkalaan kemudian diteruskan oleh Aji Masrawan atau Pangeran Arga Kesuma sebagai raja keenam sekaligus raja terakhir. Ia memerintah sejak 1884 hingga wafat pada 1905. Makamnya berada di wilayah Bakau, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Raja yang Dikenang karena Kedermawanan
Selain catatan sejarah, sosok Raja Agung juga dikenang melalui berbagai tutur lisan yang berkembang di tengah masyarakat.
Tokoh agama, Habib Qodri Alaydrus, menggambarkan Raja Agung sebagai pribadi yang dermawan, alim, dan memiliki kedalaman spiritual.
Menurutnya, Raja Agung pernah menimba ilmu agama di Martapura. Bahkan, berdasarkan riwayat yang berkembang, nisan makam beliau diukir di Kelampayan.
Habib Qodri juga mengisahkan adanya wasiat Raja Agung terkait pemindahan nisan tersebut. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Raja Agung pernah berpesan bahwa apabila ada seseorang meninggal akibat tertimpa nisan ketika dipindahkan, maka orang tersebut agar dimakamkan di lokasi yang telah ditentukan.
"Konon, peristiwa itu benar-benar terjadi. Seorang pengikut beliau meninggal saat proses pemindahan nisan dan kemudian dimakamkan sesuai wasiat tersebut," tutur Habib Qodri.
Bagi Habib Qodri, Raja Agung bukan hanya dikenang sebagai seorang penguasa, tetapi juga sebagai sosok yang sangat mencintai rakyatnya.
"Beliau adalah seorang raja yang alim, bahkan diyakini sebagai seorang wali Allah. Sosok seperti ini sangat jarang ditemukan dalam sejarah. Semoga keberkahan beliau terus mengalir bagi masyarakat, khususnya di wilayah ini," ujarnya.
Hingga kini, sejarah Kerajaan Bangkalaan terus dirawat melalui berbagai sumber, mulai dari tutur lisan zuriat Kesultanan Banjar, referensi sejarah, arsip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), arsip Leiden di Belanda, hingga berbagai dokumen sejarah lainnya. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga warisan sejarah kerajaan-kerajaan pesisir tenggara Kalimantan yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Banjar.(San)