KOTABARU, kalimantanprime.com – Goa Lowo di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru, kembali menjadi perhatian para peneliti. Tim arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama peneliti internasional melakukan observasi lapangan untuk memastikan dugaan keberadaan situs prasejarah setelah sebelumnya ditemukan sejumlah benda yang diduga merupakan artefak peninggalan manusia purba.
Penelitian yang berlangsung pada Sabtu (18/7/2026) itu merupakan tahap observasi awal sebelum dilakukan ekskavasi atau penggalian arkeologi. Tim membawa sejumlah peralatan penelitian geofisika untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah tanpa harus melakukan penggalian secara langsung.
Tim peneliti terdiri atas arkeolog asal Australia, Mr. Gerard, bersama peneliti BRIN Nia Marniati Etie Fajeri, dan Alifa. Mereka didampingi petugas pengelola Goa Lowo, yakni Hani, Yanto, dan Safruddin (Punding).
Dalam pengamatan di lapangan, tim mendeteksi adanya beberapa lapisan tanah yang berbeda serta indikasi keberadaan struktur batuan di bawah permukaan.
"Jika saya melakukan ekskavasi, saya akan memilih lokasi ini. Dugaan saya, area ini cukup menjanjikan untuk dilakukan penggalian uji. Namun kami masih harus mengumpulkan lebih banyak data agar seluruh hasil pengukuran saling mendukung," ujar Mr. Gerard saat melakukan survei.
Berdasarkan hasil pemindaian awal, lapisan tanah di lokasi penelitian menunjukkan sedikitnya tiga strata yang berbeda. Lapisan paling atas diduga telah mengalami gangguan akibat aktivitas alami seperti pertumbuhan vegetasi, sedangkan lapisan di bawahnya diperkirakan masih merupakan tanah asli yang menyimpan endapan purba.
Tim juga menemukan pantulan sinyal bawah permukaan yang cukup kuat, mengindikasikan adanya batuan berukuran besar maupun lapisan kerikil (gravel). Menurut peneliti, pola pantulan tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk menentukan lokasi ekskavasi berikutnya.
"Hasil pemindaian memperlihatkan kemungkinan adanya satu batu besar yang membentuk permukaan seperti lantai, sementara di bagian lain terdapat kumpulan batu yang masih perlu dipastikan melalui penggalian," jelasnya.
Pengamatan berikutnya dilakukan sekitar tiga meter dari titik awal penelitian. Pada lokasi tersebut, material bawah permukaan terlihat memanjang hingga ke bagian ujung dengan kedalaman yang semakin bertambah.
Tim memperkirakan lapisan tersebut berada pada kedalaman sekitar dua meter sebelum membentuk pola yang menurun kemudian kembali naik ke permukaan. Bentuk ini diduga merupakan sebuah cekungan atau lubang alami yang berpotensi menyimpan endapan arkeologis.
Temuan-temuan awal tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa Goa Lowo memiliki potensi besar sebagai situs prasejarah di Kabupaten Kotabaru. Meski demikian, BRIN menegaskan seluruh dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui penelitian lanjutan dan ekskavasi ilmiah.
Apabila hasil penelitian berikutnya berhasil mengungkap artefak maupun sisa aktivitas manusia purba, Goa Lowo berpeluang menjadi salah satu situs arkeologi penting di Kalimantan Selatan sekaligus menambah bukti sejarah panjang kehidupan manusia purba di wilayah Kotabaru.(San)
