
Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam dan Seni (Kompas) “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat resmi memulai Ekspedisi Susur Arus Banua Sungai Martapura yang akan berlangsung pada 16–20 Juni 2026.
BANJARMASIN, kalimantanprime.com – Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam dan Seni (Kompas) “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat resmi memulai Ekspedisi Susur Arus Banua Sungai Martapura yang akan berlangsung pada 16–20 Juni 2026.
Pelepasan tim ekspedisi dilaksanakan di Open Space ULM Banjarmasin, Senin (15/6/2026) pagi.
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Wakil Rektor III ULM Zuhdianoor, anggota Pembina Kompas “Borneo” Unlam Arif Rahman Hakim, serta sejumlah anggota luar biasa Kompas “Borneo” Unlam.
Ketua Umum Kompas “Borneo” Unlam, Meliyani Putri, mengatakan ekspedisi ini akan menempuh perjalanan menggunakan jukung dari Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, hingga Kota Banjarmasin.
“Estimasi perjalanan akan ditempuh selama empat sampai lima hari. Tim akan mendayung jukung menyusuri aliran Sungai Martapura dari hulu hingga hilir,” ujar Meliyani.
Menurutnya, ekspedisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan petualangan, tetapi juga bagian dari upaya pengumpulan data lapangan terkait kondisi sungai dan kehidupan masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Martapura.
“Sepanjang perjalanan kami akan melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan hidup, termasuk persoalan persampahan, kualitas kawasan bantaran sungai, serta melihat aspek sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan yang berada di sepanjang aliran Sungai Martapura,” jelasnya.
Perwakilan Wakil Rektor III ULM, Zuhdianoor, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan Kompas “Borneo” Unlam.
Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan peran mahasiswa yang tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.
“Ekspedisi ini merupakan bentuk pembelajaran nyata yang sangat berharga. Mahasiswa akan melihat langsung kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat di sepanjang sungai. Kami berharap kegiatan ini dapat menghasilkan data, gagasan, serta rekomendasi yang bermanfaat bagi pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar seluruh peserta selalu mengutamakan keselamatan selama perjalanan serta menjaga nama baik Universitas Lambung Mangkurat.
Sementara itu, anggota Pembina Kompas “Borneo” Unlam, Arif Rahman Hakim, mengatakan ekspedisi sungai merupakan salah satu tradisi penting yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan organisasi.
Menurutnya, sungai memiliki nilai historis, ekologis, dan sosial yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.
“Mahasiswa harus mampu membaca kondisi Banua secara langsung. Sungai bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang hidup masyarakat. Melalui ekspedisi ini, saya berharap peserta mampu membangun kepekaan sosial, kepedulian lingkungan, serta memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Arif juga mengingatkan agar setiap anggota menjaga kekompakan, disiplin, serta menjadikan perjalanan tersebut sebagai sarana belajar yang bermakna.
Pada kesempatan itu, Meliyani Putri turut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan ekspedisi.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Ekspedisi Susur Arus Banua Sungai Martapura. Dukungan tersebut menjadi energi bagi kami untuk melaksanakan kegiatan ini dengan baik,” ujarnya.
Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Bank BPR Martapura, Pelindo Regional 3 Sub Regional Kalimantan, Milenial Media Group, BRI Region 14 Banjarmasin, serta seluruh anggota luar biasa Kompas “Borneo” Unlam yang telah memberikan dukungan moril maupun material.
“Semoga kolaborasi ini menjadi langkah bersama dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sungai sekaligus memperkuat semangat mahasiswa untuk terus berkarya dan mengabdi kepada masyarakat,” tutup Meliyani.
Ekspedisi Susur Arus Banua Sungai Martapura dijadwalkan berakhir di Banjarmasin pada 20 Juni 2026.
Hasil observasi yang diperoleh selama perjalanan nantinya akan didokumentasikan dan menjadi bahan kajian terkait kondisi lingkungan serta dinamika sosial masyarakat di sepanjang aliran Sungai Martapura.( Wamen/Ril)