
Kasatreskrim AKP Shoqif Fabrian(kanan) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Kotabaru, Sri Sulistiyani(Kiri)
KOTABARU, kalimantanprime.com. – Kabar dugaan penggerebekan pesta gay di salah satu perumahan di Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, dalam beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan di media sosial dan tengah masyarakat. Namun, pihak kepolisian menegaskan informasi yang beredar tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Kapolres Kotabaru melalui Kasatreskrim AKP Shoqif Fabrian membenarkan adanya penanganan terhadap laporan warga terkait kejadian tersebut. Peristiwa itu terjadi di sebuah rumah di Desa Sungai Taib pada Sabtu (28/3/2026) malam.
“Jika mengacu pada narasi yang beredar sebagai penggerebekan pesta, itu dinilai berlebihan,” ujar Shoqif, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, petugas piket dari Satuan Samapta Polres Kotabaru mendatangi lokasi setelah menerima aduan masyarakat melalui layanan 110. Saat tiba di tempat kejadian, petugas mendapati tiga orang laki-laki berada di dalam rumah.
“Satu orang sedang tidur, sementara dua lainnya berada dalam satu ruangan. Dari situ kemudian dilakukan pemeriksaan,” jelasnya.
Petugas sempat mengamankan ketiga orang tersebut ke Polres Kotabaru untuk dilakukan pemeriksaan selama 1x24 jam. Namun, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, tidak ditemukan adanya unsur pidana maupun laporan resmi dari masyarakat.
“Ketiganya sudah dipulangkan karena tidak ditemukan pelanggaran hukum,” tegas Shoqif.
Meski demikian, pihak kepolisian tetap mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan segera melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan hal-hal yang mencurigakan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Kotabaru, Sri Sulistiyani, turut menanggapi serius isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia menyebut, pihaknya terus melakukan berbagai upaya preventif, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, penguatan peran keluarga, hingga edukasi kesehatan reproduksi bagi anak dan remaja.
“Kami juga memberikan pendampingan dan konseling, serta terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan,” ujarnya.
Sri juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga ketertiban dan kondusivitas daerah, serta bijak dalam menyikapi informasi yang beredar,” pungkasnya.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang utuh dan tidak terpengaruh oleh kabar yang belum tentu sesuai fakta di lapangan.(San)