Breaking News
Loading...

PT Pelsart dan Warga Buluh Kuning Bahas Mekanisme Tali Asih dalam Forum Terbuka

Sosialisasi keputusan perusahaan terkait program Tali Asih/Kearifan Lokal yang digelar PT Pelsart Tambang Kencana berlangsung dinamis di Gedung Serbaguna Desa Buluh Kuning, Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru, Kamis (19/2/2026) sekitar pukul 10.00 Wita.

KOTABARU
, kalimantanprime.com – Sosialisasi keputusan perusahaan terkait program Tali Asih/Kearifan Lokal yang digelar PT Pelsart Tambang Kencana berlangsung dinamis di Gedung Serbaguna Desa Buluh Kuning, Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru, Kamis (19/2/2026) sekitar pukul 10.00 Wita.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah kecamatan, TNI-Polri, perwakilan perusahaan, tokoh adat, tokoh masyarakat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), seluruh Ketua RT, serta perwakilan warga Desa Buluh Kuning.

Tampak hadir Camat Sungai Durian Raden Rahmad Mada Tri Wirakesuma, S.Sos., Kapolsek Sungai Durian yang diwakili AIPTU Roi Tobing, S.H., Danramil Sampanahan/Sungai Durian yang diwakili Serka Sugiono, perwakilan KPH Sengayam, serta jajaran manajemen perusahaan mulai dari Manager CSR, Manager Govrel, hingga Superintendent Govrel dan Subten Comdev CSR.

Dalam pemaparannya, pihak perusahaan menjelaskan bahwa program Tali Asih/Kearifan Lokal merupakan tindak lanjut atas klaim masyarakat yang terdampak aktivitas operasional perusahaan. Sosialisasi ini bertujuan memberikan kejelasan mengenai dasar kebijakan, mekanisme, serta ruang lingkup pelaksanaan bantuan agar tercipta kesamaan persepsi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Selain itu, forum tersebut juga menjadi ruang dialog terbuka guna menjaga kondusivitas wilayah dengan mengedepankan musyawarah serta nilai-nilai kearifan lokal.

Namun dalam sesi tanya jawab, masyarakat Desa Buluh Kuning secara tegas menyatakan menolak bantuan Tali Asih dalam bentuk fisik atau pembangunan apabila dianggap sebagai pengganti atas hilangnya kearifan lokal dan mata pencaharian akibat aktivitas perusahaan.

Adapun bentuk bantuan fisik yang sebelumnya disampaikan perusahaan antara lain pembangunan satu unit Gedung Serbaguna/Balai Budaya yang dikelola Pemerintah Desa Buluh Kuning, serta rencana pembangunan SMA Negeri melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan yang akan berlokasi di Desa Gendang Timburu untuk mencakup tiga desa.

Menurut warga, bantuan fisik tersebut dinilai lebih tepat sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR), bukan sebagai Tali Asih atas dampak operasional perusahaan.

Masyarakat justru meminta agar Tali Asih diberikan dalam bentuk tunai sebesar Rp75.000.000 sebagaimana tercantum dalam proposal yang telah diajukan. Nominal tersebut, menurut warga, dihitung berdasarkan kebiasaan aktivitas masyarakat di area konsesi perusahaan.

Menanggapi aspirasi tersebut, pihak perusahaan menyatakan akan membawa dan membahas permintaan masyarakat ke tingkat direksi. Keputusan final belum ditetapkan dalam rapat tersebut dan dijadwalkan akan dibahas dalam waktu sekitar satu bulan ke depan.

Perusahaan juga menegaskan bahwa program CSR akan tetap dilanjutkan dan dikembangkan, termasuk program yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di tiga desa terdampak.

Rapat ditutup sekitar pukul 12.00 Wita dengan harapan komunikasi dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah, serta perusahaan tetap berjalan baik dan dilanjutkan melalui musyawarah lanjutan.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan kondusif dengan pengamanan dari personel Polsek Sungai Durian.(Tim) 

Lebih baru Lebih lama