![]() |
| Pesan terakhir yang ditulis YBR menjadi salam perpisahan. (Foto: Ist) |
BANJARMASIN, kalimantanprime.com - Bumi Pertiwi kembali diselimuti duka yang sunyi namun menyayat. Di sebuah sudut Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang bocah sekolah dasar berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa, mimpi, dan coretan pensil di buku pelajaran, YBR justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.
Dugaan sementara, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi latar pilu di balik peristiwa ini. YBR disebut tak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah, kebutuhan paling dasar bagi seorang anak yang ingin belajar.
“Atas peristiwa ini, Polres Ngada menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” ujar Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, dikutip Rabu (4/2/2026).
Namun, belasungkawa itu tak mampu menghapus satu pertanyaan besar yang tertinggal: mengapa seorang anak harus memikul beban seberat ini sendirian?
Tali Nilon, Sepucuk Pesan, dan Tangis yang Tertahan
Pagi itu, kesunyian desa pecah oleh temuan yang menggetarkan hati. KD (59), warga setempat, menemukan jasad YBR saat hendak menuju pondok untuk mengikat ternak. Tubuh kecil itu tergantung di sebuah pohon, pemandangan yang tak seharusnya disaksikan siapa pun, terlebih untuk seorang anak.
Warga segera berdatangan, sebagian tak kuasa menahan tangis, sebelum peristiwa itu dilaporkan ke pihak kepolisian.
“Hasil olah TKP menunjukkan korban tergantung dengan dua utas tali nilon berwarna hijau,” kata Benediktus, suaranya dingin oleh prosedur, namun peristiwanya menyayat rasa kemanusiaan.
Polisi mengamankan barang bukti berupa tali, pakaian korban, serta selembar kertas bertuliskan tangan YBR dalam bahasa Bajawa. Sepucuk pesan itu diduga ditujukan untuk sang ibu, sebuah salam perpisahan yang tak pernah sempat diucapkan secara lisan.
Dari lokasi kejadian, jasad YBR dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk menjalani visum et repertum.
Tumbuh Tanpa Ayah, Bertahan Bersama Nenek
YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia satu tahun, hidupnya sudah diwarnai perpisahan. Ia diasuh oleh sang nenek, sementara ibunya, berusia 47 tahun, harus bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan demi menyambung hidup.
Ayahnya merantau ke Kalimantan dan tak pernah kembali.
Hari-hari YBR diisi dengan membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Di sela kerja keras itu, ia tetap menyimpan harapan sederhana: bersekolah seperti anak-anak lain, membawa buku, menulis cita-cita.
Namun, kemiskinan yang membelenggu perlahan berubah menjadi tekanan yang tak sanggup lagi ia pikul.
Kini, yang tersisa hanyalah kesunyian di rumah kecilnya, duka yang menggantung di udara desa, dan sebuah ironi pahit: seorang anak pergi bukan karena kehilangan mimpi, tetapi karena tak mampu membelinya. (Tim)

