Breaking News
Loading...

Merayakan Warisan Intelektual Nusantara dalam 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari

PERINGATAN – Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menghadiri Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Kawasan Banten Lama, Kota Serang, Banten, beberapa waktu lalu.

BANTEN, kalimantanprime.com – Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momentum historis untuk merefleksikan kembali relevansi warisan intelektual dan spiritual Nusantara yang pengaruhnya melampaui batas wilayah hingga kancah internasional.

Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga pemikir, pejuang, dan tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia dan dunia.

Sebagai salah satu figur penting dalam sejarah Islam Nusantara, Syekh Yusuf menunjukkan bagaimana nilai keislaman, kebudayaan, dan perjuangan dapat terintegrasi secara utuh. Jejak perjuangannya tidak hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga di mancanegara, khususnya Afrika Selatan.

Syekh Yusuf bahkan dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendapat pengakuan sebagai pahlawan di dua negara, yakni Indonesia dan Afrika Selatan.

Pengakuan terhadap kiprah dan pemikiran Syekh Yusuf semakin diperkuat di tingkat internasional setelah UNESCO melalui Sidang Umum ke-43 menetapkan Perayaan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari dalam kalender UNESCO Anniversary 2026.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menghadiri peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang digelar di Kawasan Banten Lama, Kota Serang, Banten.

Penetapan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan dunia terhadap peran dan pemikiran Syekh Yusuf sebagai ulama, pejuang, sekaligus tokoh perdamaian dari Nusantara.

Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa warisan intelektual yang lahir dari Indonesia memiliki kontribusi nyata dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti toleransi, keadilan, dan spiritualitas yang inklusif.

Salah satu kegiatan utama dalam peringatan tersebut adalah Khatmul Quran Bil Kitabah, sebuah praktik spiritual melalui penulisan mushaf Al-Qur'an. Kegiatan ini menegaskan bahwa tradisi literasi dalam Islam tidak hanya terbatas pada membaca, tetapi juga memiliki tradisi menulis dan mendokumentasikan pengetahuan.

Selain itu, diskusi bertajuk “Syekh Yusuf Dulu, Kini, dan Nanti” menjadi ruang dialog untuk menghadirkan pembacaan kritis terhadap pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari.

Diskusi tersebut tidak hanya menempatkan Syekh Yusuf dalam konteks sejarah masa lalu, tetapi juga sebagai referensi etis dan intelektual dalam merespons dinamika kehidupan masa kini dan masa depan.

Peringatan tersebut juga menghadirkan Pameran Manuskrip Syekh Yusuf Al-Makassari yang mengajak publik melihat secara langsung bagaimana gagasan, tulisan, serta perjuangan tokoh besar Nusantara tersebut terdokumentasikan dan diwariskan lintas generasi.

Dalam sambutannya, Undri selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, menegaskan bahwa peringatan tersebut merupakan bentuk penghormatan negara terhadap salah satu tokoh besar bangsa.

“Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan negara terhadap salah satu tokoh besar, seorang ulama, pemikir, dan pejuang yang pemikirannya tidak hanya berpengaruh di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional,” ujarnya.

Lebih jauh, peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari juga memiliki tujuan strategis untuk memperkenalkan peradaban Islam Nusantara kepada publik yang lebih luas, memperkuat literasi sejarah masyarakat, serta mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.

Salah satunya adalah Afrika Selatan yang memiliki keterkaitan historis kuat dengan perjalanan hidup dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari.

Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan intelektual yang tidak hanya bernilai lokal, tetapi juga memiliki resonansi global.

Sosok Syekh Yusuf menjadi bukti bahwa dari Nusantara lahir pemikiran besar yang mampu melintasi zaman, ruang, dan peradaban. Warisan itu kini tidak hanya dikenang oleh bangsa Indonesia, tetapi juga mendapat pengakuan dan dirayakan di tingkat dunia.(Rilis) 

Lebih baru Lebih lama