KOTABARU, kalimantanprime.com – Penemuan benda menyerupai perahu berukuran cukup besar di kawasan pegunungan Gunung Ilahi, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, mengundang perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat.
Benda yang diduga terbuat dari kayu tersebut ditemukan di Dusun 2, RT 4, Gagayan, Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu. Lokasinya berada di jalur yang menghubungkan Kecamatan Kelumpang Hulu menuju Kecamatan Hampang dan kawasan Pegunungan Meratus.
Penemuan yang disebut warga tidak lazim itu langsung ditinjau Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kotabaru Akhmad Romansyah, S.Pd., M.Ap., bersama Staf Bidang Kebudayaan Aska, Kepala Desa Banua Lawas Miyardi, Kepala Dusun 2 serta pemerhati sejarah dan kebudayaan Cantung, Saijul Kurnain, Minggu (20/9/2026).
Rombongan melihat langsung benda yang oleh masyarakat setempat disebut menyerupai perahu. Benda tersebut berada di kawasan perbukitan dan disebut memiliki ukuran cukup besar. Materialnya secara kasatmata diduga berupa kayu, yang oleh masyarakat disebut menyerupai kayu ulin.
Kepala Dusun 2 bersama warga kemudian menunjukkan titik lokasi penemuan kepada rombongan Disdikbud Kotabaru.
“Luar biasa sekali. Ini pertama kali saya melihat langsung penemuan seperti ini. Ada perahu di atas gunung,” ujar Akhmad Romansyah saat berada di lokasi.
Menurut Akhmad Romansyah keberadaan benda menyerupai perahu di kawasan pegunungan merupakan temuan yang menarik dan perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Namun, ia juga menyampaikan dugaan mengenai masa lalu kawasan tersebut berdasarkan kondisi geografis dan posisi benda yang ditemukan.
“Benar-benar ditemukan perahu dari zaman purba. Bentuk perahunya terbuat dari kayu Kalimantan, atau orang Kalimantan menyebutnya kayu ulin,” katanya.
Keanehan penemuan tersebut semakin menarik perhatian karena di sekitar lokasi juga disebut terdapat benda lain yang bentuknya menyerupai patung.
“Di sini juga ditemukan ada patung. Patung ini mirip dengan patung dari suku Asmat,” ujar Akhmad.
Selain benda menyerupai patung, terdapat pula sejumlah bagian atau sisa benda lain yang masih berada di sekitar lokasi.
Posisi benda yang berada di kawasan pegunungan menjadi salah satu hal yang membuat penemuan tersebut menarik untuk diteliti. Akhmad bahkan menduga kawasan tersebut memiliki sejarah bentang alam yang panjang.
“Berarti dulu di sini saya pastikan adalah bekas lautan. Bekas lautan. Saya juga tidak menyangka perahu yang sebesar dan seberat ini bisa berada di atas gunung. Kalau manusia mengangkat, saya rasa tidak mungkin,” katanya.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan mengenai usia, asal-usul maupun fungsi benda yang ditemukan.
Untuk memastikan apakah benda tersebut benar merupakan peninggalan purbakala, diperlukan penelitian ilmiah yang melibatkan ahli arkeologi, sejarah, geologi maupun bidang terkait.
Kepala Desa Banua Lawas Miyardi mengatakan, penemuan tersebut telah menjadi perhatian masyarakat di wilayahnya. Pemerintah desa bersama warga kemudian membantu menunjukkan lokasi kepada rombongan Disdikbud Kotabaru.
Miyardi berharap penemuan tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pihak berwenang sehingga identitas dan sejarah benda yang ditemukan dapat diketahui secara ilmiah.
“Ini menjadi perhatian masyarakat karena penemuannya cukup unik dan lokasinya berada di kawasan pegunungan. Kami dari pemerintah desa tentu berharap ada penelitian lebih lanjut agar bisa diketahui sebenarnya benda ini apa dan bagaimana sejarahnya,” ujar Miyardi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat merusak atau memindahkan benda-benda yang berada di lokasi sebelum ada penelitian dari pihak yang berkompeten.
“Kami berharap masyarakat ikut menjaga lokasi ini. Jangan sampai benda yang ditemukan rusak atau dipindahkan, karena kalau memang memiliki nilai sejarah, tentu ini sangat penting untuk kita jaga bersama,” katanya.
Pemerhati sejarah dan kebudayaan Cantung, Saijul Kurnain, yang turut berada di lokasi mengatakan, temuan tersebut berpotensi membuka informasi baru mengenai sejarah kawasan Kelumpang Hulu, khususnya wilayah yang berada di sekitar Pegunungan Meratus.
Namun, menurut Saijul, berbagai dugaan mengenai benda tersebut harus dibuktikan melalui penelitian.
“Apakah benda tersebut benar merupakan perahu purba, berapa usianya, bagaimana bisa berada di kawasan pegunungan, serta apakah memiliki keterkaitan dengan peradaban masa lalu, masih menjadi pertanyaan yang membutuhkan jawaban ilmiah,” ujarnya.
Saijul menilai, langkah pertama yang penting saat ini adalah mengamankan dan mendokumentasikan lokasi penemuan.
“Benda-benda yang berada di kawasan tersebut perlu dijaga agar tidak rusak, dipindahkan, atau mengalami perubahan sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut,” katanya.
Informasi di lapangan menyebutkan, lokasi tersebut sebelumnya juga telah didatangi sejumlah pihak, termasuk Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan pihak yang berkaitan dengan penelitian sejarah maupun arkeologi.
Jika hasil penelitian nantinya membuktikan bahwa benda tersebut memiliki nilai sejarah atau arkeologis, temuan di Gunung Ilahi dapat menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap sejarah kawasan Kotabaru dan perubahan bentang alam Kalimantan Selatan.
Untuk saat ini, satu pertanyaan besar masih menggantung di Gunung Ilahi:
Bagaimana benda menyerupai perahu berukuran besar bisa berada di kawasan pegunungan?
Jawabannya masih menunggu penelitian ilmiah.(San)
