KOTABARU, kalimantanprime.com – Kabar menggembirakan datang bagi ribuan petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Memasuki awal Agustus 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) mengalami penguatan hingga menyentuh Rp3.385 per kilogram, memberikan harapan baru bagi peningkatan pendapatan petani.
Berdasarkan pantauan Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD APKASINDO) Kabupaten Kotabaru per Sabtu (1/8/2026), harga tertinggi tercatat di PT Betung Factory (BTF), Kecamatan Pamukan Utara, dan PT Rantau Factory (RTF), Kecamatan Sungai Durian, yang sama-sama membeli TBS sawit swadaya dengan harga Rp3.385 per kilogram.
Sementara itu, sejumlah PKS lainnya menetapkan harga yang bervariasi, di antaranya PT Borneo Sawit Persada (BSP) Rp3.360/kg, PT FAS Rp3.330/kg, PT SKPM Rp3.270/kg, PT BAMM Rp3.250/kg, PT Alamraya Kencana Mas (AKM) dan PKS Safir masing-masing Rp3.200/kg, PT BLL dan PT WBT Rp3.180/kg, PT Pondok Labu Factory (PLF) Rp3.175/kg, PT PKS Gunung Aru Rp3.135/kg, serta PKS Laguna Mandiri Betung Rp3.050/kg.
Ketua DPD APKASINDO Kabupaten Kotabaru, Sainul Kurnain, mengatakan kenaikan harga tersebut menjadi angin segar bagi petani sawit swadaya setelah beberapa waktu menghadapi fluktuasi harga dan meningkatnya biaya produksi.
"Harga TBS yang kembali menguat tentu menjadi kabar baik bagi petani. Namun kami berharap kondisi ini dapat terus dipertahankan sehingga kesejahteraan petani ikut meningkat. Kami juga mengajak seluruh petani untuk terus menjaga kualitas buah agar memperoleh harga terbaik di setiap PKS," ujar Sainul Kurnain saat dikonfirmasi awak media.
Ia menambahkan, DPD APKASINDO akan terus melakukan pemantauan harga di berbagai PKS sebagai bentuk transparansi informasi bagi petani, sehingga mereka memiliki acuan dalam menentukan lokasi penjualan hasil panen.
Di tingkat petani, kenaikan harga tersebut disambut positif. Rahman, petani kelapa sawit asal Kecamatan Kelumpang Selatan, mengaku penguatan harga TBS memberikan harapan baru bagi petani yang selama ini terbebani tingginya biaya pupuk dan perawatan kebun.
"Kami bersyukur harga mulai naik. Mudah-mudahan tidak hanya bertahan seminggu atau dua minggu, tetapi bisa stabil dalam jangka panjang. Kalau harga bagus, petani juga lebih semangat merawat kebun dan meningkatkan produksi," kata Rahman.
Senada dengan itu, Agus, salah seorang pengepul TBS di Kotabaru, menilai kenaikan harga ikut mendorong aktivitas jual beli sawit di tingkat petani.
"Kalau harga di PKS naik, petani biasanya lebih cepat menjual hasil panennya. Perputaran ekonomi di desa juga ikut bergerak. Harapan kami, tren positif ini terus berlanjut agar semua pihak, mulai dari petani hingga pengepul, sama-sama merasakan manfaatnya," ujarnya.
Meski demikian, para petani berharap perusahaan tetap menjaga konsistensi harga dan menerapkan standar penilaian kualitas buah secara terbuka agar tidak menimbulkan perbedaan harga yang terlalu jauh di lapangan.
DPD APKASINDO Kabupaten Kotabaru juga mengimbau para petani untuk terus menyampaikan informasi harga terbaru maupun koreksi apabila terdapat perubahan di masing-masing PKS, sehingga data harga yang beredar tetap akurat dan dapat menjadi rujukan bersama bagi petani sawit di Kabupaten Kotabaru.(San)
