Breaking News
Loading...

Sungai Cantung Darurat Sampah, Lima Warga Tewas Diterkam Buaya dalam Satu Dekade, Kelumpang Hulu Desak Solusi Nyata


KOTABARU
, kalimantanprime.com  – Kondisi Sungai Cantung di Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, kian memprihatinkan. Tumpukan sampah rumah tangga yang memenuhi aliran sungai bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga dinilai berpotensi memperparah ancaman satwa liar, khususnya buaya muara, yang dalam sekitar sepuluh tahun terakhir telah merenggut sedikitnya lima nyawa warga.

Persoalan tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah sebuah dokumentasi video memperlihatkan kondisi Sungai Cantung, terutama di sekitar Jembatan Sungai Cantung, dipenuhi berbagai jenis sampah rumah tangga yang mengapung maupun tersangkut di kayu dan tiang jembatan.

Dalam rekaman tersebut terlihat kantong plastik, kemasan makanan, pakaian bekas hingga popok bayi memenuhi badan sungai. Bahkan, sebagian sampah lama yang telah mengendap bertahun-tahun tampak kembali ke permukaan saat debit air surut.

"Kalau sampah yang tersangkut saja sebanyak ini, bisa dibayangkan berapa banyak lagi yang sudah hanyut mengikuti arus sungai," ungkap seorang warga yang mendokumentasikan kondisi tersebut.

Menurutnya, kebiasaan membuang sampah ke sungai mulai terlihat sejak awal tahun 2000-an dan terus meningkat sekitar tahun 2010 seiring bertambahnya jumlah penduduk di Kecamatan Kelumpang Hulu. Namun, ia menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat.

 "Pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa masyarakat sampai membuang sampah ke sungai. Persoalan itu harus dicari akar penyebabnya agar solusi yang diambil benar-benar menyelesaikan masalah," ujarnya.

Diduga Menjadi Pemicu Berkumpulnya Predator

Berdasarkan pengamatan warga, tumpukan sampah yang mengendap di tikungan sungai maupun yang tersangkut di sekitar jembatan diduga menjadi lokasi berkumpulnya berbagai satwa liar untuk mencari makan.

Dalam video tersebut tampak seekor biawak mencari makanan di antara tumpukan sampah. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa limbah rumah tangga menjadi sumber makanan bagi sejumlah satwa, yang pada akhirnya berpotensi menarik kehadiran predator lain, termasuk buaya muara.

Meski demikian, dugaan keterkaitan antara penumpukan sampah dan meningkatnya kemunculan buaya masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut dari instansi maupun ahli terkait.

Yang pasti, dalam sekitar satu dekade terakhir kawasan Sungai Cantung telah menjadi lokasi sejumlah insiden serangan buaya.

Berdasarkan data yang dihimpun warga, sedikitnya lima orang meninggal dunia akibat serangan buaya, yakni tiga korban berasal dari Desa Karang Payau, satu anak berusia delapan tahun dari Desa Sungai Kupang, serta satu korban dari Desa Batulasung. Jumlah tersebut belum termasuk korban dari desa lain di luar kawasan Sungai Cantung.

Selain korban meninggal dunia, sejumlah warga lainnya juga dilaporkan mengalami luka akibat serangan predator tersebut.

Nelayan Lebih Banyak Menangkap Sampah daripada Ikan

Dampak penumpukan sampah juga dirasakan langsung oleh para nelayan yang menggantungkan hidup di Sungai Cantung.

Mereka mengaku jaring yang dipasang kini lebih sering dipenuhi sampah rumah tangga dibandingkan ikan. Plastik, pakaian bekas hingga popok bayi kerap tersangkut di alat tangkap sehingga mengganggu aktivitas mencari nafkah.

Kondisi tersebut dinilai semakin memperburuk kualitas lingkungan sekaligus mengancam perekonomian masyarakat yang bergantung pada sungai.

Kepala Desa Sungai Kupang, Muhammad Saleh, mengakui persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah desa semata.

Menurutnya, penanganan sampah membutuhkan keterlibatan pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, serta kesadaran masyarakat.

"Permasalahan utama kami sampai hari ini adalah belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA). Pertanyaannya, sampah ini mau dibuang ke mana kalau TPA belum tersedia," ujarnya.

Ia menjelaskan pemerintah desa telah berupaya menjalin kerja sama dengan TPA Sungai Dua, namun hingga kini belum dapat direalisasikan.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah dapat membangun fasilitas TPA di wilayah daratan Kelumpang Hulu agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara maksimal, termasuk mengoptimalkan keberadaan TPS3R di Tegalrejo.

Muhammad Saleh menambahkan, Desa Banua Lawas telah menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri, namun volume sampah di desa tersebut tidak sebesar Desa Sungai Kupang.

Sementara itu, Camat Kelumpang Hulu Rahmatullah Noor mengatakan pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Sungai Kupang bersama masyarakat untuk membahas langkah penanganan persoalan sampah rumah tangga yang semakin kompleks.

Ia menambahkan, pihak kecamatan masih menunggu tindak lanjut dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotabaru untuk memberikan arahan teknis, solusi penanganan, serta menjadwalkan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu.

Warga berharap penanganan persoalan sampah tidak berhenti pada kegiatan pembersihan sungai semata, tetapi juga dibarengi dengan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, serta penguatan kebijakan lingkungan.

Bagi masyarakat Kelumpang Hulu, Sungai Cantung bukan sekadar aliran air. Sungai tersebut merupakan urat nadi kehidupan yang menjadi sumber mata pencaharian, jalur transportasi, sekaligus ruang hidup masyarakat.

Ketika sungai dipenuhi sampah, dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup warga yang setiap hari bergantung pada Sungai Cantung. Dengan langkah yang terencana dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, masyarakat berharap Sungai Cantung dapat kembali menjadi sungai yang bersih, sehat, dan aman bagi generasi mendatang.(San) 

Lebih baru Lebih lama