Breaking News
Loading...

Petani Sawit Keluhkan Grading PKS Safir, Ancam Tutup Akses Jalan ke Pabrik

 petani kelapa sawit swadaya di Desa Magalau Hilir, Kecamatan Kelumpang Barat, mempertanyakan sistem grading atau penilaian Tandan Buah Segar (TBS) yang diterapkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Safir.

KOTABARU
, kalimantanprime.com – Sejumlah petani kelapa sawit swadaya di Desa Magalau Hilir, Kecamatan Kelumpang Barat, mempertanyakan sistem grading atau penilaian Tandan Buah Segar (TBS) yang diterapkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Safir. Mereka menilai terdapat ketidaksesuaian dalam penilaian kualitas buah antara milik petani dan buah yang berasal dari perusahaan.

Keluhan tersebut disampaikan para petani kepada awak media, Rabu (24/6/2026). Mereka mengaku banyak buah milik petani yang ditolak atau dikenakan grading dengan alasan belum matang, sementara buah yang berasal dari kebun perusahaan dinilai memiliki kondisi yang hampir sama namun tetap diterima.

Salah seorang petani menunjukkan sejumlah contoh buah yang menurutnya memiliki tingkat kematangan yang layak untuk dipanen dan dijual ke pabrik.

"Silakan lihat dan bandingkan sendiri. Menurut kami tidak ada perbedaan yang signifikan antara buah milik masyarakat dengan buah milik perusahaan. Namun buah petani tetap terkena grading, sedangkan buah perusahaan diterima," ujarnya.

Petani juga menyoroti keberadaan janjang kosong yang ditemukan di lokasi panen perusahaan. Mereka menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi yang sama apabila standar penilaian diterapkan secara konsisten.

"Kalau memang ada standar tertentu, kami berharap diterapkan secara adil kepada semua pihak. Jangan sampai buah masyarakat dipermasalahkan, sementara buah perusahaan dengan kondisi serupa tetap diterima," katanya.

Menurut para petani, buah yang selama ini dinilai belum matang oleh pihak pabrik justru telah memenuhi indikator kematangan yang lazim digunakan dalam panen sawit.

"Buah yang berwarna merah seperti ini menurut kami sudah matang. Kalau masih dianggap kurang matang, tentu kami ingin mengetahui seperti apa standar yang sebenarnya digunakan," tambahnya.

Para petani berharap pihak perusahaan dapat memberikan penjelasan terbuka terkait mekanisme dan standar grading yang diterapkan, sehingga tidak menimbulkan persepsi adanya perlakuan berbeda terhadap pemasok buah dari kalangan petani swadaya.

Sementara itu, seorang warga yang selama ini rutin menjual TBS ke PKS Safir mengaku hingga saat ini belum melihat adanya perubahan dalam pelaksanaan grading di lapangan.

Di tengah keluhan yang berkembang, beredar informasi bahwa sebagian petani berencana melakukan aksi sebagai bentuk protes terhadap kondisi tersebut.

"Informasi sementara, mohon menunggu dua hingga tiga hari ke depan untuk mengetahui apakah kondisi masih seperti biasa atau ada perubahan. Berdasarkan informasi lisan dari rekan-rekan, ada rencana aksi penutupan jalan masuk menuju area pabrik," ungkap salah seorang warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PKS Safir terkait keluhan petani mengenai sistem grading TBS tersebut.(San) 

Lebih baru Lebih lama