![]() |
| Kajian Senin Kamis (KSK) BNPT RI dan FKPT Kalimantan Selatan membedah tren potensi radikalisme di Bumi Lambung Mangkurat melalui zoom meeting, Senin (25/5/2026) |
BANJARMASIN, kalimantanprime.com – Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2025 mengalami kenaikan menjadi 13,2 poin atau meningkat 1,1 poin dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 12,1. Angka tersebut juga tercatat lebih tinggi dibandingkan IPR nasional yang berada di level 10,1 poin.
Kenaikan IPR di Kalimantan Selatan terjadi secara bertahap dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, IPR Kalsel berada di angka 10,2 poin, kemudian meningkat menjadi 10,8 poin pada 2023, naik lagi menjadi 12,1 poin pada 2024, hingga mencapai 13,2 poin pada 2025, khususnya pada dimensi pemahaman radikalisme.
Data tersebut terungkap dalam kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan melalui Zoom Meeting, Senin (25/5/2026).
Kegiatan bertema “Membedah Tren Potensi Radikalisme di Bumi Lambung Mangkurat” itu merupakan bagian dari internalisasi hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) 2025 dan diikuti sebanyak 215 peserta dari berbagai unsur strategis di Kalimantan Selatan.
Hadir sebagai narasumber Direktur Pencegahan BNPT RI Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi, S.H., M.H., Peneliti FKPT Kalimantan Selatan Mukhdiansyah, S.E., M.M., serta Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Kolonel Sus Dr. Harianto, M.Pd.
Dalam sambutannya, Direktur Pencegahan BNPT RI Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi menegaskan bahwa media sosial saat ini menjadi saluran utama penyebaran paham ekstremisme.
Menurutnya, kelompok radikal memanfaatkan ruang digital untuk melakukan propaganda, pencucian otak (grooming), hingga perekrutan anggota baru, terutama menyasar generasi muda.
“Ekstremisme melalui media sosial dapat menormalisasi kekerasan yang pada akhirnya berujung pada aksi terorisme,” tegasnya.
Sementara itu, Tim Review BNPT RI, Lilik Purwandi, menjelaskan bahwa kelompok rentan terhadap paparan radikalisme di Kalimantan Selatan meliputi perempuan, generasi muda atau Gen Z, masyarakat urban, serta para pengguna internet aktif, termasuk anak-anak.
Ia juga memaparkan sejumlah langkah pencegahan dan penguatan daya tangkal masyarakat, di antaranya melalui penguatan kearifan lokal, pola asuh dan pendidikan keluarga, wawasan kebangsaan, literasi digital, serta moderasi beragama.
Kegiatan tersebut turut dihadiri seluruh pengurus FKPT Kalimantan Selatan yang dipimpin Dr. Fauzi Makki, serta peserta dari berbagai unsur seperti perguruan tinggi, TNI/Polri, Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA), Korem 101/Antasari, Satgaswil Kalsel, Densus 88 AT, Kementerian Agama, Kesbangpol, Ikasba, Dinas Pendidikan kabupaten/kota, hingga sekolah SMA/SMK se-Kalimantan Selatan.( Rilis)
